Obat tradisional HIV AIDS
Obat tradisional HIV AIDS - Solusi Pengobatan Penyakit HIV AIDS dengan Obat HIV AIDS tradisional XAMthone plus mampu mengobati penyakit HIV AIDS secara alami tanpa menimbulkan efek samping negatif.
Obat tradisional HIV AIDS – Di Indonesia saat ini sudah ditemukan obat herbal ajaib yang mampu melawan penyakit HIV AIDS secara berkala. Xamthone plus namanya, diproduksi dari keseluruhan buah manggis, artinya bukan saja daging buahnya tetapi seluruh kulitnya. Dengan menggunakan mesin berteknologi tinggi zat XANTHONES yang ada dalam kulit buah manggis diproduksi. XANTHONES merupakan zat dalam kulit buah manggis yang memiliki zat antioksidan tinggi. Seorang konsultan HIV AIDS di Bandung bersaksi dengan sangat yakin bahwa Xamthone plus telah menyelamatkan 88 nyawa manusia, 9 diantaranya sudah masuk stadium AIDS.
Kesaksian serupa juga diungkapkan oleh H. Ki Ageng S. Dewantara seorang therapist herbal yang berpraktik di Bali menegaskan bahwa selama dia menggunakan Xamthone plus untuk para pasiennya yang mengidap penyakit HIV / AIDS, sudah 4 orang sembuh dan dibuktikan secara medis. Rata-rata masa proses menuju kesembuhannya di bawah 1 tahun. Mas Kurnadi juga dari Bali bersaksi tentang kehebatan Xamthone plus menyembuhkan orang sakit HIV AIDS. Seorang pemuda yang sudah putus harapan hidupnya karena usianya tinggal sebulan akibat HIV AIDS. Setelah minum Xamthone plus selama 1 tahun, sekarang pemuda tersebut hidup sehat dan panjang umur.
Kisah-kisah kesembuhan para penderita HIV AIDS yang diceritakan kembali oleh orang-orang tersebut di atas, dan kesembuhan itu karena mengonsumsi Xamthone plus bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sejatinya kesembuhan-kesembuhan itu adalah karya penyelamatan Tuhan, campur tangan-Nya, mu’jizat-Nya dan cinta kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia. Tuhan telah menghadirkan Xamthone plus untuk para penderita HIV AIDS dan para penderita jantung, kanker kelenjar getah bening, kanker payudara, diabetes, stroke, stress, alzheimer, mystenia gravis, dll.
Xamthone Plus alternatif pengobatan tradisional penyakit HIV AIDS
Obat tradisional HIV AIDS – Xamthone Plus Mampu Mengobati penyakit HIV AIDS, sebagai mana dikatakan seorang Counseling Adviser STI/HIV/AIDS dan BCC (Behavior Changes Communication) Services yang berkantor di Bandung, Jawa Barat, telah membuktikan khasiat XAMthone plus mampu mengobati para penderita HIV Aids. Dalam setiap kesempatan couseling HIV menuturkan dengan bangga di depan forum seminar maupun gebyar bahwa ternyata dengan kehadiran Xamthone plus sangat membantu para penderita HIV Aids untuk hidup lebih lama dan selayaknya seperti manusia lainnya yang tidak menderita penyakit tersebut. Ketika menghadiri acara Xamthone plus , beberapa waktu lalu, reporter USB News sempat mewawancarainya perihal pekerjaannya dalam menolong para penderita HIV Aids baik di Bandung maupun Jakarta serta kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan tingkat penularan HIV Aids yang tinggi. Menurut penuturannya, saat ini dia sedang menolong para penderita HIV Aids, antara lain, 1 keluarga di Pati, Jawa Tengah, 2 bapak di Surabaya, Jawa Timur, 7 orang di Bandung, 1 orang di Padang, Sumatera Barat, 1 orang di Pekanbaru, Riau, 7 orang di Jakarta, 1 orang di Ambon, Maluku dan 2 orang di Papua.
Testimoni Xamthone plus sebagai Obat tradisional HIV AIDS
Obat tradisional HIV AIDS – Sebagaimana dikatakan seorang Counseling Adviser STI/HIV/AIDS dan BCC (Behavior Changes Communication) Services yang berkantor di Bandung, Jawa Barat, telah membuktikan khasiat XAMthone plus mampu mengobati para penderita HIV Aids. Dalam setiap kesempatan couseling HIV menuturkan dengan bangga di depan forum seminar maupun gebyar bahwa ternyata dengan kehadiran XAMthone plus sangat membantu para penderita HIV Aids untuk hidup lebih lama dan selayaknya seperti manusia lainnya yang tidak menderita penyakit tersebut. Ketika menghadiri acara XAMthone plus , beberapa waktu lalu, reporter USB News sempat mewawancarainya perihal pekerjaannya dalam menolong para penderita HIV Aids baik di Bandung maupun Jakarta serta kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan tingkat penularan HIV Aids yang tinggi. Menurut penuturannya, saat ini dia sedang menolong para penderita HIV Aids, antara lain, 1 keluarga di Pati, Jawa Tengah, 2 bapak di Surabaya, Jawa Timur, 7 orang di Bandung, 1 orang di Padang, Sumatera Barat, 1 orang di Pekanbaru, Riau, 7 orang di Jakarta, 1 orang di Ambon, Maluku dan 2 orang di Papua. Khusus penderita asal Padang mempunyai kisah tersendiri.
Menurut Franklin, si penderita dari Padang ini sudah memasuki stadium 4 dan tinggal menghitung kapan tiba ajalnya. “Setiap dia telepon saya, lagi ngomong tiba-tiba dia pingsan, bangun, telepon lagi, pingsan lagi, bangun lagi, telepon lagi, tetapi saya tetap suruh minum XAMthone plus. Dan faktanya sekarang dia sudah bisa main futsal, bekerja kembali dan hidup layaknya manusia yang bukan menderita HIV Aids. Dia juga akan terbang dari Padang menuju Bandung untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Yayasan saya,” beber lelaki berdarah Ambon Belanda dan Jawa ini. Sebelum menggunakan Xamthone plus dalam mengobati para pasien HIV AIDS, Pendiri Yayasan Priangan Sejati itu mengakui tingkat keselamatan para pasien HIV Aids sangat rendah. “Rata-rata kurang dari 10 tahun usia hidup mereka, bahkan hanya sampai 3 tahun masa hidup mereka,” ujar aktivis HIV Aids yang sudah berkecimpung 18 tahun lamanya ini. “Setelah minum XAMthone plus, mereka mempunyai harapan hidup selama-lamanya karena sudah selesai satu permasalahannya yaitu HIV Aids,” lanjutnya. Dengan pengalaman 18 tahun di bidang penanganan para penderita HIV Aids atau OHIDA, Franklin sangat yakin dengan khasiat XAMthone plus. “Saya nyatakan, baru 15 menit pertama kali minum XAMthone plus si penderita sudah merasakan perubahannya, bahkan 1 botolpun mereka sudah bisa beraktivitas, seperti enak makan, enak tidur, tidak diare lagi dan tidak mual lagi,” lanjut pria yang pernah berbicara mengenai HIV Aids di depan Megawati Soekarno Putri, Jusuf Kalla dan beberapa menteri serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI yang membidangi kesehatan.
Franklin menggunakan XAMthone plus tepatnya tahun 2009 selepas lebaran dan sampai hari ini jumlah para penderita HIV Aids yang tertolong semakin banyak. Dia juga menuturkan, sejak ada XAMthone plus, dia tidak lagi memberikan obat kimia kepada pasiennya, hanya XAMthone plus saja, dan kalau dirasakan perlu, dia bisa menambahkan dengan madu kunyit putih, madu cerna dan teh murbei. Dalam percakapannya dengan reporter USB News, ia juga mengandaikan, kalau saja si pasien HIV Aids punya 10 juta untuk membeli XAMthone plus, maka selesai sudah. Jauh lebih murah ketimbang biaya yang diperkirakan oleh WHO, badan kesehatan dunia PBB yang harus dikeluarkan oleh seorang penderita HIV Aids dalam memerangi penyakitnya. Dibutuhkan sekitar 360 juta rupiah setiap penderita untuk mempertahankan hidupnya sampai mereka meninggal dunia, artinya biaya pengobatan dan terapi segala macam. Para pasien yang mengonsumsi XAMthone plus berasal dari berbagai kalangan dan berbagai jenjang usia. Perlu diketahui bahwa dalam tubuh seseorang yang menderita HIV Aids, setiap harinya tumbuh 10.000 virus yang menyerang sistem imun tubuhnya dan itu harus dihambat secepatnya, sebab kalau tidak akan sangat cepat meninggal, ya paling lama 3 tahun. Dan menurut Franklin herbal yang mampu dengan cepat membunuh virus-virus tersebut hanya XAMthone plus dan hal itu sudah terbukti. Bukan saja membunuh virus-virus itu, tetapi juga membangun kembali sistem imun tubuh yang tercabik-cabik dihajar virus mematikan itu.
http://obattradisionalhivaids.net/wp-content/uploads/2012/02/xam.jpg
Kamis, 20 September 2012
Rabu, 19 September 2012
JURNAL KESEHATAN
KUMPULAN JURNAL KESEHATAN
KUMPULAN JURNAL -JURNAL KESEHATAN
Jurnal – Jurnal dibawah ini adalah hasil-hasil kerja keras anak bangsa yang rela berbagi pengetahuan dan wawasan sesama rekan-rekan kesehatan….Selamat belajar.HUBUNGAN PEMBERIAN IMUNISASI BCG DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK BALITA DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU AMBARAWA TAHUN 2007
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HIPERTENSI KEHAMILAN TERHADAP PEMELIHARAAN TEKANAN DARAH IBU HAMIL DI PUSKESMAS PUNDONG BANTUL
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI POLIO DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASCA IMUNISASI POLIO PADA ANAKNYA DI POSYANDU MARGASARI TASIKMALAYA TAHUN 2007
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN AKIBAT HOSPITALISASI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI BANGSAL L RSUP DR.SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN TAHUN 2007
TINGKAT KEBERHASILAN PENYEMBUHAN TUBERKULOSIS PARU PRIMER PADA ANAK USIA 1-6 TAHUN DI DESA CIBUNTU CIBITUNG BEKASI DENGAN PENDEKATAN POLA PERAWATAN 2007
PENGARUH TEKNIK NAFAS DALAM TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU PERSALINAN KALA I DI PONDOK BERSALIN NGUDI SARAS TRIKILAN KALI JAMBE SRAGEN
PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP TINGKAT KOOPERATIF SELAMA MENJALANI PERAWATAN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH (3 – 5 TAHUN) DI RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA
PERBEDAAN SIKLUS MENSTRUASI ANTARA IBU YANG MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DENGAN KONTRASEPSI SUNTIK DI DUSUN GENENG SENTUL SIDOAGUNG GODEAN SLEMAN YOGYAKARTA
PENGARUH PERAN SERTA SUAMI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DALAM MENGHADAPI PROSES PERSALINAN DI DESA JEPAT LOR KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI 2007
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN STRATEGI KOPING PADA KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA YANG DIRAWAT DENGAN PENYAKIT JANTUNG DI RSUD AMBARAWA 2005
SIKAP MAHASISWA DALAM PEMANFAATAN PROGRAM PEMERIKSAAN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MAHASISWA (PPKM) BALAI PENGOBATAN SEWU HUSADA BHAKTI PRIMA YOGYAKARTA
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKSUAL BERISIKO PADA REMAJA DI SMK NEGERI 4 YOGYAKARTA
HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN KEBERHASILAN PROGRAM PENGEMBANGAN BAKAT DAN POTENSI ANAK (Studi Kerjasama Creative Children Centre Stikes Surya Global Yogyakarta dengan Little Care)
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU ASUH DENGAN PELAKSANAAN TOILET TRAINING SECARA MANDIRI PADA ANAK USIA TODLER DI TPA CITRA RSU RAJAWALI CITRA BANTUL
HUBUNGAN IKLIM ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP RS PKU MUHAMMADIYAH KARANGANYAR
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT FLU BURUNG PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN SALAM KABUPATEN MAGELANG PADA BULAN MARET TAHUN 2007
ANALISIS TERHADAP KEBIJAKAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN PREVALENSI KURANG TIDUR KRONIS PADA MAHASISWA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
HUBUNGAN ANTARA SEBELUM DAN SETELAH MENGIKUTI SENAM ASMA DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PENYAKIT ASMA
HUBUNGAN PENDEKATAN STRATEGI DOTS (DIRECLY OBSERVED TREATMENT SHORTCORSE) DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KALASAN SLEMAN 2008
HUBUNGAN KONDISI RUMAH DENGAN PENYAKIT TBC PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGMOJO II KABUPATEN GUNUNGKIDUL TAHUN 2003 – 2006
PENGARUH KONSELING KELUARGA TERHADAP PERBAIKAN PERAN KELUARGA DALAM PENGELOLAAN ANGGOTA KELUARGA DENGAN DM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOKAP I KULON PROGO 2007
HUBUNGAN ANTARA LAMA WAKTU TERPASANG KATETER DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN YANG TERPASANG KATETER URETRA DI BANGSAL RAWAT INAP DEWASA KELAS III RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
HUBUNGAN POLA PERAWATAN PADA ANAK TUBERKULOSIS PARU PRIMER DENGAN LAMA PENYEMBUHAN PADA ANAK USIA 1-6 TAHUN DI DESA CIBUNTU CIBITUNG BEKASI 2007
TINGKAT KOOPERATIF ANAK USIA PRA SEKOLAH (3 – 5 TAHUN) MELALUI TERAPI BERMAIN SELAMA MENJALANI PERAWATAN DI RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA
STUDI TENTANG PROFESIONALISME SISTEM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) DAN INOVATIF DALAM RANGKA MENCEGAH TINGKAT KEMATIAN IBU PADA FASE HAMIL DAN BERSALIN
GAMBARAN PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL DI RUMAH SAKIT (STUDI DI RSUD PESISIR SELATAN, RSUD PADANG PARIAMAN, RSUD SIKKA, RSUD LARANTUKA DAN RSUD SERANG, 2005)
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN MASYARAKAT DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HIDUP DASAR PADA KEJADIAN GAWAR DARURAT KELAUTAN DI KELURAHAN CILACAP SELATAN KABUPATEN CILACAP TAHUN 2006
HISTOCHEMICAL ANALYSIS OF MUCOPOLYSACCHARIDES OCCURRING IN MUCUS-PRODUCING TUMOR
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IMT/U PADA BALITA VEGETARIAN LAKTO OVO DAN NON VEGETARIAN DI DKI JAKARTA TAHUN 2008
GAMBARAN PELAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
TANGGUNG JAWAB ( RSPONSIBILITY ) DAN TANGGUNG GUGAT ( ACCOUNTABILITY ) PERAWAT DALAM SUDUT PANDANG ETIK
PERAN AYAH DALAM OPTIMALISASI PRAKTEK PEMBERIAN ASI : SEBUAH STUDI DI DAERAH URBAN JAKARTA
STRES KERJA
KEHIDUPAN PERKAWINAN BAHAGIA : DAMPAK POSITIF UNTUK DAMPAK KESEIMBANGAN MENTAL ANAK KINI DAN NANTI
KEPEMIMPINAN KLINIK ( CLINICAL LEADERSHIP ) DI RUMAH SAKIT MENUJU SISTEM YANG KONDUSIF BAGI PROFESIONALISME KEDOKTERAN DALAM RANGKA PATIENT SAFETY
GAMBARAN PERUBAHAN POLA HAID AKSEPTOR KONTRASEPSI SUNTIKAN DEPO MEDROXY PROGESTERON ACETAT DI BIDAN PRAKTEK SWASTA “ NURMALI “ DESA KOTO PANAP KEC. TANAH KAMPUNG KAB. KERINCI TAHUN 2007
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT MOTIVASI SERTA KOMITMEN PERAWAT DAN BIDAN DENGAN PENERAPAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA KLINIK ( PMKK ) DAN FAKTOR YANG PALING BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PMKK DI RSUD KOTA YOGYAKARTA
VENTILASI MEKANIK
PERBANDINGAN EFEK SUPLEMENTASI TABLET TAMBAH DARAH DENGAN DAN TANPA VITAMIN C TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA PEKERJA WANITA DI PERUSAHAAN PLYWOOD, JAKARTA 2003
ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL KASUS TUBERKULOSIS DI KOTA YOGYAKARTA , JULI – DESEMBER 2004
PERAN C REACTIVE PROTEIN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSA APPENDISITIS AKUT
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN EVALUASI KINERJA KARYAWAN UNTUK PROMOSI JABATAN
PERBANDINGAN PEMAKAIAN SIKLOPROVERA DAN HRP 102 SEBAGAI KONTRASEPSI SUNTIKAN BULANAN DENGAN DMPA, SEBUAH KONTRASEPSI SUNTIKAN TIGA BULANAN ( SEBUAH STUDI PENDAHULUAN )
ALTERED STATE OF CONSCIOUSNESS, AFIRMASI, DAN VISUALISASI UNTUK MENGATASI MASALAH OBESITAS
HUBUNGAN NATARA PERSEPSI GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN TRANSAKSIONAL DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN
PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIA DAN WANITA AKSEPTOR KONTRASEPSI MANTAP DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
MAKING FREGNANCY SAFER POLICY IMPLEMENTATION IN BANJAR DISTRICT, SOUTH KALIMANTAN PROVINCE
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP CIDERA FISIK DENGAN MOTIVASI UNTUK BERMAIN LAGI PADA ATLET SKATEBOARD
MAKNA PROFESIONALISME PERAWAT DALAM PERSPEKTIF PASIEN ( PENDEKATAN KUALITATIF )
MASSA NEKROTIK BERGRANUL HALUS EOSINOFILIK BERBERCAK BERCAK SEBAGAI PEMBEDA ABSES TUBERKULOSA DAN ABSES NON TUBERKULOSA
SPEKTRUM BAKTERIOLOGIK PADA BERBAGAI JENIS BATU SALURAN KEMIH BAGIAN ATAS
EFEKTIFITAS MODIFIKASI PERILAKU – KOGNITIF UNTUK MENGURANGI KECEMASAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
MANAJEMEN UNIT GAWAT DARURAT PADA PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN OBSTETRI DI RUMAH SAKIT UMUM TENGKU MANSYUR TANJUNG BALAI
MOTIVASI KERJA DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU PERAWAT DI RSUD Dr. H. MOH. ANWAR SUMENEP MADURA
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU HAMIL MENGHADAPI KELAHIRAN ANAK PERTAMA PADA MASA TRIWULAN KETIGA
MOTIVASI BELAJAR DAN SUMBER-SUMBER INFORMASI TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMUN 2 BANGUNTAPAN BANTUL
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI PRA BEDAH TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRA BEDAH MAYOR DI BANGSAL ORTHOPEDI RSUI KUSTATI SURAKARTA
HUBUNGAN IKLIM ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP RS PKU MUHAMMADIYAH KARANGANYAR
HUBUNGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SKILLS LAB MODUL SHOCK DENGAN PRESTASI YANG DICAPAI PADA MAHASISWA FK UGM ANGKATAN 2000
SITOPLASMA
SELAMAT DATANG DI TAUFIK ARDIYANTO'S BLOG
Makalah Sitoplasma
23:39 kuncup No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sel merupakan unit (satuan)
kehidupan terkecil dari makhluk hidup yang meliputi kesatuan struktural
dan fungsional, pertumbuhan atau perkembangan, dan herediter terkecil. Semua
makhluk hidup terdiri dari sel, baik itu makhluk hidup unisel maupun yang
multisel. Sel berasal dari sel-sel sebelumnya, setiap sel memiliki kehidupannya
sendiri (otonomi) disamping itu juga memiliki peranan gabungan (semiotonom) di
dalam organisme multi sel. Sebagai bagian dari organisme multi sel, sel-sel
akan membentuk organisasi atau kesatuan- kesatuan yang lebih besar yaitu
jaringan-organ-sistem organ-dan organisme. Untuk dapat mendukung kehidupan dan
fungsi sel, sel dilengkapi oleh organel sel. Sel yang memiliki inti dengan
berbagai organelnya disebut sel eukariotik, sedangkan sel yang tidak memiliki
selubung inti sehingga materi inti berhubungan langsung dengan sitoplasma yang
disebut sel prokariotik.
Sel merupakan suatu sistem yang sangat kompleks dan memiliki
mekanisme kerja yang sanagt canggih atau modern, dinamis dan hidup. Mempelajari
sel akan membawa kita pada suatu petualangan yang menarik dan penuh kejutan.
Misalnya pada saat sel menanggapi stimuli dari luar sel, maka sel akan segera
mengaktifkan reseptor pada membran sel untuk merespon stimuli tersebut dengan
kerjasama berbagai komponen pada membran dan ion-ion tertentu. Kemudian akan
terjadi suatu proses respon yang teratur, berpola, dan dengan kecepatan yang
menakjubkan.
Suatu sel memiliki bagian-bagian diantaranya adalah dinding
sel, membran sel, sitoplasma, nukleus, ribosom, retikulum endoplasma (RE),
kompleks golgi (KG), mitokondria, lisosom, peroksisom, sitoskleton, sentrosom
dan sentriol, flagel dan silia, inklusi sel, material ekstraseluler. Salah satu
bagian dari sel tersebut ada yang namanya sitoplasma, pada makalah ini akan
dibahas semua tentang sitoplasma yang merupakan cairan dalam sel.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui
sejarah sitoplasma
2. Mengetahui
pengertian sitoplasma
3. Mengetahui
organel sitoplasma
4. Mengetahui
fungsi sitoplasma
5. Mengetahui
sifat-sifat sitoplasma
6. Mengetahui
matriks sitoplasma
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Sitoplasma
Istilah sitoplasma secara tradisional digunakan untuk
memberikan segala sesuatu di dalam sel kecuali nukleus. Pada awal mula
sitologi, ketika sangat sedikit yang diketahui tentang organisasi material di
luar nukleus, maka istilah tersebut amat berguna. Namun dengan metode-metode
yang diperbaiki unutk mempelajari sel, maka diketahui kerumitan yang luar biasa
pada struktur-struktur yang terdapat di daerah sitoplasma. Mikroskopi elektron
menyingkapkan pola-pola luas bagi membran dan kompartemen yang dibatasi membran
di dlam sitoplasma. Struktur yang dibatasi dengan jelas dinamai organel.
Cara lain yang berguna untuk mempelajari bagian-bagian sel
adalah menghancurkan sejumlah besar sel, masukkan ke dalam tabung, dan putarkan
dalam mesin pemusing (sentrifuge). Hal ini mengeluarkan gaya sentrifugal pada
organel dalam campuran sel. Benda-benda besar atau yang berat akan dilempar ke
dasar tabung lebih cepat daripada benda-benda keci lagi ringan. Dengan
memusingkan campuran sel selama 10 menit dengan gaya sekitar 800 kali daya tarik
bumi akan menyebabkan nuklei diendapkan di dasar tabung sehingga terbentuk
sedimen. Gaya yang lebih tinggi yang dikenakan dalam waktu lebih lama akan
mengakibatkan organel-organel yang lebih kecil dan lebih ringan mengendap.
Organel-organel ini dapat diambil dan dipelajari secara kimia dan dengan
mikroskop. Setelah dipusingkan selama dua jam dengan gaya 100.000 kali lebih
basar daripada gravitasi, maka hampir seluruh organel yang dapat diidentifikasi
pada sel itu akan dipaksa mengendap. Cairan (fluida) di atas sedimen
(supernatan) mewakili apa yang tersisa dari sitoplasma setelah semua organelnya
dikeluarkan. Maka inilah material yang di dalamnya biasanya tersuspensi
organel-organel sitoplasma. Berbagai nama telah diberikan seperti “substansi
dasar”, “hialoplsma”, “sitosol”, dan lain-lain. Sebagian besar adalah air yang
di dalamnya terlarut banyak molekul kecil-kecil dan ion serta juga sejumlah
besar protein. Sebenarnya, jumlah enzim yang teramat perlu bagi metabolisme sel
terdapat di sini. Namun sebagian besar fungsi sitoplasma itu merupakan fungsi
organel-organel yang terdapat di dalamnya.
B. Pengertian
Sitoplasma
Sitoplasma adalah cairan dalam sel yang terletak antara membran plasma dan
nukleus. Secara fisik, sitoplasma tebal, semitransparan, cairan elastik yang
berisi partikel tersuspensi dan sedikit tubulus dan filamen yang membentuk
sitoskleton. Sitoskleton berfungsi sebagai penyokong dan pemberi bentuk sel dan
bertanggung jawab terhadap gerakan struktur-struktur sel, juga fagositosis.
Secara kimia, 70-90% sitoplasma terdiri dari air dan komponen padatan (protein,
karbohidrat, lipida, dan zat-zat anorganik).
Pada sel eukariota, sitoplasma adalah bagian non-nukleus
dari protoplasma. Pada sitoplasma terdapat sitoskeleton, berbagai organel dan
vesikuli, serta sitosol yang berupa cairan tempat organel melayang-layang di
dalamnya. Sitosol mengisi ruang sel yang tidak ditempati organel dan vesikula
dan menjadi tempat banyak reaksi biokimiawi serta perantara transfer bahan dari
luar sel ke organel atau inti sel. Walaupun semua sel memiliki sitoplasma,
setiap jaringan maupun spesies memiliki ciri-ciri yang jauh berbeda antara satu
dengan yang lain.
C. Organel Sel
Sitoplasma
Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam
sitoplasma dan bersifat hidup(menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).
1. Mitokondria
adalah organel-organel lipoprotein dalam plasma sel, berbentuk butir, batang
atau benang yang mempunyai daya memperbanyak sendiri, terdiri dari suatu
selaput luar dan dalam yang mengandung fosfat dan beberapa enzim yang berfungsi
di dalam pemberian makanan dan pernapasan sel.
2. Plastida adalah
badan organel yang terdapat dalam sitoplasma kebanyakan sel tumbuhan, dapat
beberapa organel persediaan atau organel
fotosintesis (kloroplas).
3. Vakuola
merupakan ruangan di dalam sitoplasma yang berisi cairan yang isotonik dengan
sitoplasma dan dikelilingi oleh satu selaput.
4. Ribosom
merupakan suatu dari sejumlah besar partikel nukleoprotein subsel yang tersusun
atas RNA dan protein yang merupakan situs sintesis protein di dalam sel.
5. Retikulum
Endoplasma (RE) merupakan jalinan membran rangkap yang menyerupai jala,
merambat ke seluruh bagian sitoplasma, yang membagi sitoplasma menjadi
ruangan-ruangan atau saluran-saluran.
6. Badan golgi
merupakan benda berbentuk kantung pipih, terdapat pada sitoplasma tumbuhan atau
hewan, terutama pada sel-sel sekresi, yang berfungsi sebagai alat untuk
mengeluarkan kelebihan protein keluar dinding sel atau untuk mengangkut
polisakarida untuk pembentukan dinding sel.
7. Lisosom
merupakan butir-butir berbentuk lonjong dalam sitoplasma sel hewan, banyak
mengandung enzim penghidrolisis, berfungsi untuk menguraikan polisakarida,
lemak, protein, dan asam nukleat, juga berperan dalam menghancurkan sel-sel
mati dari jaringan yang rusak dan digantikan dengan sel-sel baru.
8. Mikrofilamen,
Seperti mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya
yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam
pergerakan sel.
9.
Sentrosom(sentriol) merupakan struktur berbentuk bintang yang berfungsi
dalam pembelahan sel (mitosis maupun meiosis). Sentrosom bertindak sebagai
benda kutub dalam mitosis dan meiosis.
10. Mikrotubulus,
berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan
sebagai “rangka sel”.
11. Peroksisom
(badan mikro), ukurannya sama seperti lisosom. Organel ini senantiasa
berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan
katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).
D. Fungsi
Sitoplasma
Beberapa fungsi sitoplasma antara lain:
1. Sebagai medium
terjadinya reaksi-reaksi kimia sel
2. Sebagai penerima
bahan-bahan dasar dari lingkungan eksternal dan mengubahnya menjadi bahan yang
dapat digunakan sebagai energi.
3. Sebagai tempat
dimana zat baru disintesis untuk keperluan sel.
4. Sumber bahan
kimia penting bagi sel karena di dalamnya terdapat senyawa-senyawa organik
terlarut, ion-ion, gas, molekul kecil seperti garam, asam lemak, asam amino,
nukleotida, molekul besar seperti protein, dan RNA yang membentuk koloid.
5. Sebagai tempat
menampung semua organel sel di luar nukleus.
6. Dapat
mengekalkan bentuk dan ketekalan sel.
7. Sebagai tempat simpanan bahan-bahan kimia yang sangat
diperlukan untuk hidup, dan terlibat dalam tindak-tindak balas metabolisme yang
penting seperti glikolisis anaerob dan sintesis protein.
E. Komponen Utama
Penyusun Sitoplasma
1. Cairan
seperti gel (agar-agar atau jeli) yang
disebut sitosol.
2. Substansi
simpanan dalam sitoplasma. Substansi ini bervariasi tergantung tipe sel nya.
Sebagai contoh, sitoplasma sel hati mengandung simpanan molekul glikogen,
sedangkan sitoplasma sel lemak mengandung tetesan lemak besar.
3. Jaringan yang
strukturnya seperti filamen (benang) dan serabut yang saling berhubungan.
Jaringan benang dan serabut disebut sitoskleton.
4. Organel-orgael
sel.
F. Sifat-Sifat
Sitoplasma
Sitoplasma memiliki beberapa sifat antara lain:
1. Efek Tyndal
yaitu kemampuan matriks sitoplasma memantulkan cahaya.
2. Gerak Brown
yaitu gerak acak (zig-zag) partikel penyusun koloid.
3. Gerak siklosis
yaitu gerak matriks sitoplasma berupa arus melingkar.
4. Memiliki
tegangan permukaan.
G. Matriks
Sitoplasma
Matriks sitoplasma atau bahan dasar sitoplasma disebut
sitosol. Sitoplasma dapat berubah dari fase sol ke gel dan sebaliknya. Matriks
sitoplasma tersusun atas oksigen 62%, karbon 20%, hidrogen 10%, dan nitrogen 3%
yang tersusun dalam senyawa organik dan anorganik. Unsur-unsur lain adalah: Ca
2,5%; P 1,14%; Cl 0,16%; S 0,14%; K 0,11%; Na 0,10%; Mg 0,07%; I 0,014%; Fe
0,10%; dan unsur-unsur lain dalam jumlah yang sangat kecil.
Kedua istilah matriks sitoplasma dan sitosol biasanya
dipakai untuk menyebut komponen sitoplasma yang bukan organel yang mengisi
ruang intrasel di antara organel dan inklusi. Bagian sitoplasma ini mengandung
banyak protein terlarut, termasuk protein pembentuk organel dan enzim terlarut
yang terlibat dalam metabolisme antara. Di dalam sitosol terdapat pula substrat
dan produk banyak reaksi enzim berbeda. Unsur sitosol penting lainnya adalah
molekul kecil dan ion-ion yang meningkatkan efissiensi reaksi metabolik
tertentu dan ikut membentuk suasana intrasel yang unik.
Penampilan komponen yang dapat dikatakan tanpa ciri ini
seperti yang terlihat dalam sajian, untuk mikroskop elektron yang dipulas
dengan cara konvensional dan juga seringnya penggunaan istilah sitosol,
cenderung memberi kesan bahwa komponen ini merupakan bagian cair sitoplasma dan
tambahan lagi memberi kesan bahwa ia tidak berstruktur dan juga cair. Namun
tidak cukup bukti untuk menyokong pandangan ini, khususnya pada tingkat
molekular, dan sejumlah observasi sebenarnya bertentangan dengannya.
Enzim dapat dipertahankan pada posisi sesuai agar dapat
menghasilkan substratnya secara efisien, meniru caranya enzim terorientasi
dalam membran. Oleh karena itu terdapat alasan untuk percaya bahwa hampir semua
unsur di dalam sitoplasma tidak secara leluasa dapat bergerak dan bahwa matriks sitoplasma merupakan bahan
supernatan (bahan yang mengapung di atas bahan cairan lain, seperti minyak di
atas air) intrasel yang tidak berstruktur dan homogrn, terdiri atas molekul
yang berdifusi bebas atau semata-mata bagian cair sitoplasma tempat tersuspensi
organel-organel secara bebas, tidak dapat dipertahankan lagi.
H. Stuktur-Stuktur
dalam Matriks Sitoplasma
1. Filamen
Terdapatnya struktur seperti benang dalam matriks sitoplasma
yang tidak berbentuk telah diketahui pada beberapa jenis sel dengan mikroskop
cahaya. Struktur ini disebut fibril yaitu dbedakan dari fibers yaitu istilah
untuk struktur seperti benang yang lebih kasar, misalnya serat otot skelet.
Serat-serat tampak dengan mata biasa atau pada pembesaran rendah, sedangkan
fibril hanya dapat dilihat pada mikroskop cahaya dengan pembesaran yang tinggi.
Istilah fibril tergantung pada mancam jenis sel diman fibril itu terletak
misalnya, pada sel otot disebut miofibril (G. Mys=otot), pada sel-sel saraf
yaitu neurofibril (G. Neuron=saraf) dan pada sel epitel tertentu yaitu tono
fibril (G. Tonos=tegangan), karena diduga ini penting untuk tegangan sel
sehingga bentuk seluler dipertahankan.
Dengan mikroskop elektron tampak bahwa fibril terdiri atas
berkas-berkas elemen seperti benagng yang lebih halus yang disebut filamen.
Saat ini filamen terutama dianggap membentuk sturktur dasar kontraktilitas.
Kontraktilitas adalah sifat dasar protoplasma yang tercakup dalam fenomena
penting seperti fagositosis, pinositosis, dan pergerakan amuboid. Pada
kebanyakan sel filamen terdapat dalam zona ektoplasma yang sempit, dimana
filamen berjalan dalam berkas yang sejajar atau membentuk jala-jala yang padat.
Seperti yang telah disebutkan, sel-sel otot adalah khusus
untuk kontraksi dan berisi sejumlah besar filamen yang disebut miofilamen. Pada
sel-sel otot bercorak, terdapat kedua jenis filamen, jenis pertama mempunyai
diameter sekitar 5nm dan berisi protein aktin, jenis filamen lainnya lebih
tebal sekitar 12nm dan berisi protein miosin. Filamen-filamen aktin dan miosin
tersusun sejajar dan secara relatif dapat bergeser satu sama lain. Hal ini
mengakibatkan pemendekan sel otot.
Fragmen meromiosin berat dapat mengikat ujung tempat
spesifik pada filamen aktin. Karena itu filamen membentuk suatu sudut dengan
filamen aktin dan jika suatu seri tempat ikatan ditempati oleh fragmen
meromiosin berat didapat gambaran sangat khas seperti “ujung panah”. Filamen
sitoplasma yang berisi aktin dapat diidentifikasi melalui perlakuan sajian
dengan suatu larutan meromiosin berat. Dengan cara ini tampak bahwa
mikrofilamen sitoplasma berisi aktin, diekstraksi dari sel-sel otot dan jenis sel lainnya dan sam dalam
sifat-sifat molekulnya. Selain itu, semua aktin mempunyai kemampuan untuk
berpolimerisasi timbal balik di bawah keadaan yang sesuai dan berinteraksi
dengan miosin. Seperti disebutkan, kontraksi mencakup sejumlah fenomena dalam
sel fagositosis dan pinositosis, pergerakan amuboid, aliran sitoplasma dan
mikrofilamen diduga merupakan dasar elemen dalam kontraksi jenis ini.
Filamen sedang terdiri atas macam-macam filamen dengan sifat
biokimia dan fungsi yang bervariasi, dan istilah grup utama filamen-filamen ini
bersama-sama berdasar pada diameter filamen, terletak di tengah-tengah di
antara mikrofilamen dan miofilamen. Filamen sedang yang berbeda jenisnya terdiri
atas yang berbeda berat molekul yang bervariasi yang kurang khas daripada aktin
dan misin karena kesulitan melarutkan filamen sedang dalam bentuk aslinya.
Berkas-berkas dibentuk oleh filamen sedang dengan mikroskop cahaya tampak
sebagai fibril dalam sel epitel tertentu, misalnya tonofibril pada sel-sel
tertentu, filamen sedang pada sel otot, neurofilamen pada sel saraf dan filamen
glia pada sel-sel glia. Fungsinya terutama untuk menghasilkan bantuan mekanis
sebagai komponen dari sejenis sitoskleton.
2. Mikrotubulus
Yang disebut mikrotubulus juga terdapat tunggal dalam
matriks sitoplasma semua sel-sel eukariota adalah penemuan yang lebih
belakangan. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa mikrotubulus yang terdapat
tersebar adalah kurang stabil dan menghilang oleh fiksasi selama pendinginan
atau dengan fisatif seperti osmium tetroksida. Mikrotubulus mempunyai diameter
luar sekitar 25 nm dan pada potongan melintang tampak struktur seperti cincin
dengan dinding yang padat elektrontebalnya sekitar 6 nm dan tengahnya lebih
pucat. Dinding dibentuk dari sub unit globular dengan diameter 4 nm, mungkin
tersusun dalam heliks filamen mentosa dengan sub unit tiap putaran heliks.
Mikrotubulus mungik terdapat dimana-mana namu, mikrotubulus sering tampak
tersebar di atas sentrosom, dimana mikrotubulus itu mungkin berakhir pada satelit. Satelit
merupakan struktur kecil yang padat yan terdapat yang berkaitan dengan sentriol
. Selain itu, mikrotubulus adalah bagian khas sel-sel saraf, terutama dalam
tonjolan panjang seperti benang yaitu akson dan disebut neurotubulus. Pada
kebanyakan sel, mikrotubulus jumlahnya relatif sedikit pada interfase, tetapi
berkaitan dengan pembelahan sel dibentuk sejumlah besar mikrotubulus yang
menyusun aparatus kumparan. Mikrotubulus sitoplasma aisusun oleh sub-unit
protein yang seragam mikrotubulusnya dari berbagai jenis sel. Istilah tubulin,
yang digunakan untuk protein utama dalam silia dan flagel, sekarang secara umum
digunakan juga untuk mikrotubulus sitoplasma. Tubulin adalah dimer dengan berat
molekul sekitar 110.000. Seterusnya tubulin dapat dipisahkan menjadi dua
monomer dengan berat molekul sekitar 55.000. Mikroutubulus didapat melalui
polimerisasi dari sejumlah dimer bebas dan diduga bahwa ada keseimbangan
dinamis antara tubulus polimerisasi dan tubulus yang tidak berpolimerisasi,
sehingga pergeseran dalam tingkat polimerisasi mengakibatkan hilangnya atau
terbentuknya mikrotubulus.
Dalam kaitan ini, sangat menarik bahwa alkaloid tanaman
colchicine dan vinblastin dapat berikatan pada dimer tubulin, setelah itu
tubulin tidak dapat berpolimerisasi menjadi mikrotubulus. Fungsi mikrotubulus
sitoplasma telah jelas melalui percobaan mempergunakan colchicine dan
vinblastin . Terpisah dari efek pada pembelahan sel, colchicine dapat
mempengaruhi transport aksoplasma, yang merupakan dasar suatu dugaan bahwa
neurotubulus tercakup dalam transport intraseluler dan untuk pergerakan organel
dan inklusi. Akhirnya, mikrotubulus membantu mempertahankan bentuk sel dan
merupakan bagian sitoskleton.
I. Inklusi
Sitoplasma
Inklusi dapat diartikan sebagai komponen-komponen sel yang
dapat disimpan, yang mungkin disintesa oleh sel itu sendiri atau diambil dari
sekitarnya dan sering berada dalam sel hanya untuk sementara. Istilah itu
sekarang terutama digunakan untuk penyimpanan nutrisi dan pigmen-pigmen
tertentu.
1. Penyimpanan
Nutrisi
Hanya karbohidrat dan lipid disimpan dalam bentuk inklusi
pada sel-sel hewan, sedangkan protein terdapat dalam sel terikat dalam struktur
protoplasma atau larut dalam matriks. Dari tempat penyimpanan yang penting ini,
asam-asam amino dapat dilepaskan jika terdapat kekurangan nutrisi.
a. Karbohidrat
Sel-sel hewan menyimpan krbohidrat dalam bentuk glikogen.
Terutama sel-sel hati dan juga sel-sel otot menyimpan glikogen, tetapi sejumlah
kecil glikogen terdapat di dalam sitoplasma kebanyakan sel-sel. Glikogen tidak
terwarna dalam sajian histologik rutin, oleh karena itu pada sajian yang
diwarnai misalnya dengan HE, tampak bentuknya tidak teratur, tampak ruang kecil
yang kosong dalam sitoplasma yang berwarna merah muda. Namun glikogen dapat
diamati dengan reaksi PAS atau dengan cara Best carmine, keduanya mewarnai
glikogen menjadi merah.
Pada sajian mikroskop elektron yang diberi kontras sitrat
timah, glikogen tampak sebagai partikel-partikel tidak beraturan yang padat
dengan diameter sekitar 15-30 nm. Partikel-partikel ini mungkin membentuk
penimbunan yang lebih besar seperti bunga mawar terutama dalam sel-sel hati.
b. Lipid
Penyimpanan lipid terutama dalam bentuk trigliserida dalam
sel-sel lemak yang merupakan komponen dasar jaringan lemak. Namun, sel jenis
lainnya juga sering berisi timbunan lipid. Trigliserida merupakan cadangan
energi, tetapi asam lemak dapat digunakan sebagai tambahan oleh sel untuk
sintesa komponen struktur yang berisi lipid misalnya membran-membran.
Pada sajian histologik rutin, trigliserida terekstraksi oleh
pelarut lipid dan berkaitan dengan tetesan lipid, vakuol kosong bentuknya bulat
tampak dalam sitoplasma. Lemak dapat diamati pada sajian beku yang difiksasi
dengan formalin, yang diwarnai dengan pewarnaan Sudan. Lemak juga dapat
difiksasi dalam osmium, setelah itu lemak tampak sebagai tetesan bulat berwarna
hitam, ukurannya bervariasi. Pada elektron mikrografi sajian yang difiksasi
dengan osmium, lipid juga tampak sebagai tetesan bulat dengan bagian dalamnya
hitam homogen.
2. Pigmen-Pigmen
Istilah pigmen adalah zat yang mempunyai warna dalam keadaan
alami. Jenis dan jumlah pigmen di dalam suatu jaringan menetukan warnanya.
Pigmen didekan menjadi dua yaitu, pigem eksogen yaitu pigmen yang diambil oleh
organisme dari lingkungannya. Pigmen endogen yaitu pigmen yang dibentuk dalam
organisme dari komponene-komponen yang tidak berpigmen.
a. Pigmen Eksogen
Pigmen eksogen yang terpenting adalah karoten dan debu
arang.
1. Karoten (L.
Carota=wortel) adalah pigmen tanaman berwarana kuning dan merah. Karoten dalam
wortel terutama kuning, sedangkan dalam tomat mempunyai warna lebih merah.
Karoten larut dalam lemak dan setelah diambil ke dalam organisme, karoten
ditimbun dalam jaringan lemak, yang menyebabkan jaringan lemak berwarna kuning.
Kulit berwarna kuning karena penimbunan karoten dalam sel-sel lemak di dermis
dan jaringan subkutan sama seperti dalam lapisan tanduk kulit. Warna kuning
krim dan mentega karena karoten dari
sayuran dalam makanan.
2. Debu arang,
masuk ke dalam organisme melalui udar inspirasi dan selanjtnya diambil oleh sel
fagosit dalam alveoli paru. Dari alveoli, debu arang dibawa oleh limf.
Akibatnya paru dan nodus limfatikus yang berkaitan menjadi berpigmen lebih
gelap dengan bertambahnya usia.
b. Pigmen Endogen
Pigmen endogen yang terpenting adalah Hemoglobin, dan
Lipofusin.
1. Hemoglobin
adalah pigmen yang berisi besi dari sel-sel darah merah, yang berperan untuk
mengangkut oksigen. Lama hidup sel darah merah biasanya sekitar 120 hari.
Setelah itu, sel-sel ini difagosit oleh
sel-sel tertentu dalam hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Dalam sel-sel
ini, hemoglobin dipecahkan menjadi pigmen hemosiderin dan bilirubin.
a. Pigmen
hemosiderin, warnanya coklat kunig dan terdapat sebagai granula sitoplasma
dalam sel-sel fagosit. Hemosiderin dapat diamati secara histokimia dengan
reaksi pewarna untuk besi.
b. Bilirubin,
adalah pigmen kuning kemerahan yang setelah pembentukannya dalam sel-sel
fagositik dengan cepat dilepaskan dari sel fagosit, karena itu secara biasa
tidak ditemukan sebagai suatu inklusi pigmen. Pigmen ini disekresi oleh sel-sel
hati ke dalam empedu.
2. Lipofusin.
Pigmen ini berwaran coklat keemasan dan terdapat sebagai kelompokkan kecil
dalam berbagai sel, tetapi pigmen ini paling sering tampak di sel-sel otot
jantung, sel-sel saraf, dan sel-sel hati. Lipofusin dapat berfluoresensi dengan
membentuk waran coklat keemasan dengan cahaya ultraviolet dan terwarna sedang
dengan pewarna lemak. Jumlah lipofusin dalam sel-sel meningkat dengan
bertambahnya usia dan pigemen dianggap sebagai hasil akhir dari aktivitas
lisosom. Sel tidak dapat menyikngkirkannya melalui eksositosis, karena itu
pigmen tertimbun dengan bertambanhay umur dalam bentuk badan residu.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari mater sitoplasma ini, dapat diperoleh beberapa
kesimpulan yaitu:
1. Sitoplasma
adalah cairan dalam sel yang terletak
antara membran plasma dan nukleus.
2. Organel sel yang
terdapat dalam sitoplasma terdiri dari, mitokondria, plastida, vakuola,
ribosom, Retikulum Endoplasma, badan golgi, lisosom, sentrosom (sentriol),
peroksisom, mikrotubulus, mikrofilamem.
3. Salah satu
fungsi sitoplasma yaitu sebagai sumber bahan kimia penting bagi sel karena di
dalamnya terdapat senyawa-senyawa organik terlarut, ion-ion, gas, molekul kecil
seperti garam, asam lemak, asam amino, nukleotida, molekul besar seperti
protein, dan RNA yang membentuk koloid.
4. Sifat-sifat
sitoplasma antara lain, efek tyndal, gerak brown, gerak siklosis, memiliki
tegangan.
5. Matriks
sitoplasma tersusun atas oksigen 62%, karbon 20%, hidrogen 10%, dan nitrogen 3%
yang tersusun dalam senyawa organik dan anorganik. Unsur-unsur lain adalah: Ca
2,5%; P 1,14%; Cl 0,16%; S 0,14%; K 0,11%; Na 0,10%; Mg 0,07%; I 0,014%; Fe
0,10%; dan unsur-unsur lain dalam jumlah yang sangat kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Arwin dan Tri Jalmo. 2002. Biologi Umum. Bandar
Lampung: Universitas Lampung.
Cormack, David H. 1994. HAM Histologi Jilid I Edisi
Kesembilan. Jakatra: Binarupa Aksara.
Geneser, Fin.1994. Buku Teks Histologi. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Kimbal, John W.1983. Biologi Jilid I Edisi Kelima.
Jakarta:Erlangga.
Kusuma, Chandra. 1996.Kamus Lengkap Biologi. Surabaya:
Fajar Mulya.
Risqi,
Ardian.2010.http://www.ardianrisqi.com/2010/08/struktur-sitoplasma.html.
Diunduh pada tanggal 20 Februari 2011. Pukul 10.00 WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/sitoplasma. Diunduh pada
tanggal 20 Februari 2011. Pukul 10.20 WIB.
http://ms.wikipedia.org/wiki/sitoplasma. Diunduh pada
tanggal 1 Maret 2011. Pada pukul 20.00 WIB
http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0112%20Bio%203-1a.htm.
Diunduh pada tanggal 1 Maret 2011. Pada pukul 20.15 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)
